Masa muda
Memang masa yang penuh gejolak, masa yang dikuasai oleh dinamika-dinamika untuk mengakarkan diri dalam menghadapi kehidupan. Masa muda adalah masa untuk menentukan berbagai hal yang akan menentukan arah dan perjalanan hidupnya. Dalam usaha melepaskan diri dari ketergantungan orang-tua, pemuda berusaha memantapkan arah perjalanan hidupnya dengan memperoleh status dan pekerjaannya. Ia ingin memperoleh statusnya seperti anggota masyarakat lain, mungkin sebagai karyawan, sebagai usahawan atau profesi-profesi lain. Suatu status yang bagi sebagian kaum muda mungkin mudah diraih, namun bagi kaum muda lain tidak sedemikian mudah. Bagi mereka yang masih kabur, masih tidak jelas mengenai status yang akan diduduki kelak, akan menimbulkan gejolak besar.
Hal lain yang berpengaruh besar terhadap kaum muda ialah pembentukan keluarga baru. Membentuk keluarga baru bagi masyarakat kita, masih merupakan semacam “tuntutan”. Seakan belum menjadi orang kalau belum mampu berkeluarga. Seakan belum selesai tugas orang tua kalau anaknya belum memasuki jenjang perkawinan. Keluarga baru dianggap sebagai bukti kemampuan dan keberhasilan seseorang memasuki masa dewasa dan hidup mandiri. Namun sebenarnya hal demikian hanya merupakan status simbol saja, karena kemandirian seseorang tidak didasarkan pada berkeluarga atau tidak. Di beberapa negara modern malah timbul pendapat-pendapat lain yang jauh berbeda, yang tidak menuntut seseorang harus berkeluarga.
Gejolak masa muda menjadi ciri adanya dinamika, adanya perjuangan dalam menghadapi hari depan yang masih kabur, yang sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Namun bilamana gejolak tersebut tidak terkendali secara sempurna dalam kehidupan sehari-hari, barulah perlu diredam, perlu dijinakkan agar tidak menjadi masalah besar bagi diri, keluarga maupun masyarakat.
Dalam hal menjadi masalah, beberapa hal perlu diperhatikan:
1. Adanya keseimbangan antara keinginan dan kenyataan.
Setiap orang punya tujuan hidup, punya cita-cita, punya keinginan. Namun tidak semuanya dapat diperoleh. Mungkin hanya sebagian atau harus mengganti dengan sasaran lain. Mungkin tidak sekaligus diperoleh tetapi bertahap. Memaksakan suatu keinginan yang harus dicapai, sedangkan rintangan terlalu besar dan sulit dihindari, akan menimbulkan berbagai reaksi yang lebih banyak negatifnya. Menyesuaikan diri mengandung arti adanya kemampuan untuk melihat dan mengukur diri sendiri seberapa jauh seseorang bisa mencapai apa yang diinginkan atau sebaliknya tidak. Ini bukan reaksi pasrah atau menyerah yang sebaliknya menunjukkan kelemahan pribadinya. Banyak keinginan atau cita-cita seseorang yang sebelum waktunya diperoleh dapat dialihkan ke hal-hal lain karena tidak mungkin sekaligus dicapai. Butuh kesabaran dan berfungsinya aspek rasio yang baik.
2. Faktor kepribadian berpengaruh besar.
Faktor ini bersangkut paut dengan perkembangan kepribadian dan lingkungan hidupnya, yang berpengaruh besar terhadap gambaran kepribadian seseorang apakah mencapai kematangan atau tidak. Kematangan kepribadian yang ditandai oleh adanya integrasi yang balk dari berbagai aspelmya, menjadi jaminan bagi seseorang, kemampuannya meredam berbagai dorongan negatif, berbagai kekecewaan dan juga berbagai rangsangan dari luar dirinya yang berpengaruh negatif bila tidak bisa diatasi. Dalam hal demikian, acapkali masih dibutuhkan bantuan profesional [a.l. dokter, psikolog, rohaniwan untuk lebih memantapkan kepribadiannya]. Suatu proses yang tidak bisa berubah atau diubah sekaligus, melainkan membutuhkan waktu yang cukup dan dialami atau dilakukan secara bertahap.
3. Perlunya mengubah perilaku, sikap dan pola hidup secara umum atau khususnya tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
Banyak hal kita bisa belajar dari hidup kita dan dari pengamatan-pengamatan terhadap masalah-masalah kehidupan di sekeliling kita. Sengaja atau tidak sengaja banyak hal bisa kita tiru, atau banyak hal menjadi contoh dari kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan seseorang dan dijadikan patokan untuk dihindari, tidak dilakukan. Kemauan membuka din, kemauan berhubungan dengan lingkungan sosial secara lebih luas sangat dibutuhkan.
4. Kepercayaan diri menjadi dasar penting untuk bersikap dan bertingkah laku.
4. Kepercayaan diri menjadi dasar penting untuk bersikap dan bertingkah laku.
Namun kepercayaan diri seseorang tidak menjadi dasar untuk bisa berbuat semaunya. Masih ada dasar lain yang perlu diperhatikan yakni dasar Agama. Gejolak apapun yang terjadi pada kaum muda, akan mampu diredam dengan kekuatan Iman yang memberi arah dan kekuatan untuk mengatasi. Iman yang kuat, kokoh bukan saja menjadi dasar melainkan menjadi sumber kebahagiaan tersendiri manakala kaum muda menghadapi berbagai kesulitan karena gejolak-gejolaknya. Ia juga menjadi sumber cahaya yang menyinari perilaku dan sikap secara lebih mantap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar